Analogi SMK dan Pabrik Pesawat Terbang

Selamat pagi.

Ternyata SMK itu dapat dianalogikan seperti pabrik pesawat terbang. Ada pesawat bermesin piston atau mesin turbo. Pesawat terbang bermesin piston kebanyakan ukurannya kecil, hanya muat untuk pilot saja, digunakan untuk keperluan sangat terbatas, misal menyemprot pupuk di perkebunan yang lumayan luas (saya lihat di negara2 maju). Pesawat bermesin turbo ada yang pakai propeler ada yang jet (maka disebut turbo-prop dan turbo-jet). Turbo-prop pada umumnya pesawat kecil dan menengah. Ada yang single propeler (seperti Helicopter, Cesna Caravan), dan ada yg double propeler (seperti ATR, CN235) serta yang empat propeler (Hercules).

Masing-masing jenis pesawat memiliki kemampuan dan sifat penggunaan yang berbeda. Helicopter misalnya, digunakan untuk vertical take off and landing (VTOL). Kapasitas penumpang dari 4 hingga 20 orang (Cinox (maaf kalau salah menuliskannya, helikopter yg digunakan untuk kepresidenan USA). Daya jelajah maksimum berkisar antara 200-600 mil udara.

Di sisi terbesar, sekarang sudah ada pesawat berbadan lebar double deck, boing 787 atau airbus 380 yang mampu terbang selama 12 jam nonstop membawa penumpang hingga >200 orang.

Di mana kesamaan SMK sebagai pabrik tenaga kerja dengan Boing, Airbus, atau pabrik pesawat terbang lainnya?

Jawabnya ya di produk atau lulusannya itu. Lha kok bisa?

SMK sekarang ini dengan berbagai jurusan yang ditawarkan sejatinya sedang menghasilkan lulusan berkelas helicopter, capung, ATR, CN235, Hercules, DC100, Foker28, Airbus300-200, Boing 737, atau Boing 787. Masih belum mudeng aku.

Bagi SMK yang hasilkan lulusan sekelas Helicopter, biar kata helicopternya canggih, sdh pakai Fly by Wire, tetap saja helicopter itu daya angkutnya sedikit dan daya jelajahnya tak sejauh Airbus 300. Memang helicopter bisa VTOL sementara Airbus 300 memerlukan landasan paling tidak 2000 meter.

Makna lebih mendalam lagi apa dan mengapa? Tanpa disadari, proses yang terjadi di dalam SMK sebenarnya sedang meramu masa depan siswa, apakah setelah lulus nanti menjadi Helikopter, Cesna, atau Boing 900ER. Bila yang dihasilkan adalah lulusan berkelas helikopter, tentu masih berguna bagi masyarakat, namun bagi lulusan itu sendiri sebagai pribadi daya jelajahnya tak sebesar mereka yang belajar bidang keahlian yang menjadikan dirinya sekelas Pesawat turbo jet berbadan lebar.

Padahal dalam kehidupan nyata, daya jelajah identik dengan prospek meraih manfaat ekonomi dari kekayaan keahlian yang dimilikinya.

Jadi meski nasib manusia ada di kekuasaan Illahi, namun tanda-tanda suram-cerahnya masa depan manusia sudah bisa diprediksi dari apa yang dipelajarinya, apa yang dikerjakannya hari ini. Kalau hari ini belajar teknologi masa lalu, atau teknik yang sudah bukan teknik, atau produk keteknikan yang sudah massal sehingga nilai ekonomi atas keahliannya rendah, maka besar kemungkinam lulusannya hanya akan memenuhi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah-menengah bawah. Padahal bukankah tujuan pendidikan adalah untuk menyejahterakan kehidupan manusia?

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *