SHARE

Tidak bisa disangkal bahwa masyarakat kita sedang gandrung gelar. Bahkan karena saking gandrungnya dengan gelar akademik, tidak jarang beberapa orang menempuh jalan pintas seperti jual beli ijazah palsu dan kuliah di universitas ilegal. Untuk meyakinkan para kliennya, universitas abal-abal pun mencantumkan nama kampus yang berbau internasional dan Rektornya pun memiliki gelar yang panjangnya seperti antrian sembako. Ironis.

 

Gelar S1, S2, dan S3 seakan-akan menjadi penjamin hidup yang lebih layak. Perusahaan-perusahaan ternama pun ikut-ikutan mencantumkan syarat minimal pendidikan S1 bahkan S2 di iklan yang mereka tayangkan. Inilah letak kesulitan kita. Baik pemakai jasa maupun pencari kerja memiliki mindset yang sedikit melenceng dalam memaknai gelar.

 

Gelar akademik seharusnya dimaknai sebagai simbol bahwa yang bersangkutan telah menghabiskan waktu yang banyak dan mempelajari berbagai modul untuk menjadi ahli dalam suatu bidang. Proses pembelajaran yang lama dan menantang ini yang kemudian ditandai dengan gelar akademik. Dalam hal ini gelar akademik menjadi jaminan bahwa yang bersangkutan sudah melalui proses pengejawantahan yang matang dan berarti. Oleh karena itu, saat orang-orang mulai memutuskan untuk membeli ijazah palsu atau kuliah di universitas abal-abal, mereka telah menipu diri sendiri karena proses pembelajaran mereka adalah sejumlah nol jam.

 

Malangnya, kadang-kadang penyedia lowongan juga tidak kalah malasnya dalam memeriksa kompetensi pelamar. Hanya dengan melihat ijazah terakhir pelamar, mereka kemudian mengasumsikan banyak keahlian yang dikuasai pelamar. Hal ini tentu kontra-produktif dengan tujuan utama perekrutan. Perusahaan seharusnya bersikap lebih pragmatis untuk mendapatkan SDM berkualitas. Jangan tes ijazahnya tapi teslah kemampuan dan skillnya.

 

Trend gandrung akan ijazah ini sudah bergulir sekian lama, menjadikan generasi muda menganggap remeh hardskill, softskill maupun lifeskill. Dengan kecenderungan yang sama, siswa akan cenderung memilih Sekolah Menengah Umum daripada Sekolah Menengah Kejuruan. Alasanya sederhana. Mereka beranggapan bahwa pada akhirnya yang laku di pasaran adalah gelar kuliahan. Bersekolah di SMK akan mengurangi pilihan mereka untuk masuk ke pendidikan tinggi. Di sisi lain, grade gaji dan remunerasi di Indonesia masih kebanyakan berdasar pada ijazah yang dimiliki. Siswa akan berpikiran bahwa menjadi lulusan SMK akan memberikan patokan gaji yang merugikan bagi mereka dan mereka akan selalu kalah dengan lulusan S1.

 

Trend ini kelihatannya akan abadi. Namun kejenuhan bisa saja terjadi. Perusahaan atau institusi penyedia lowongan akan belajar dari kesalahan yang mereka buat. Mereka mulai sadar bahwa ijazah saja belum menjamin core skills dan attitude yang mereka butuhkan untuk bersaing dengan kompetitor. Perusahaan akan kembali pada kodratnya, mencari orang yang berkemampuan bukan hanya orang dengan setumpuk sertifikat sekolahan. Di sinilah peran SMK akan kembali menggeliat. SMK sudah melakukan hal yang paling mereka kuasai. Mencetak tenaga ahli madya yang siap pakai. Perusahaan akan mulai menyadari bahwa mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk training skills dan attitude. Toh jika memang berprestasi, perusahaan akan dengan mudah menyediakan studi lanjut jika memang dibutuhkan. SMK sudah memiliki peminat dan fans setia. Dan sebentar lagi, momentum akan membuat SMK semakin menggeliat dan relevan bagi kehidupan modern yang dinamis. Pasar kerja di masa depan bukan lagi berbasis gelar. Pasar itu bernama pasar kerja berbasis kompetensi. (HP)

 

4 COMMENTS

  1. Artikel menarik dan mengelitik…
    Bagi alumni SMK 7 Semarang, sebagai tenaga madya siap pakai memang menjadi pilihan banyak perusahaan, tentulah perlu menyesuaikan secara terus menerus kompetensi guru dan siswa dengan kemajuan teknologi.

    Menyiasati kompetisi lulusan SMK dengan pekerja bergelar S1 untuk meraih jenjang karier yang lebih baik, ada 2 (dua) soft skill yang bisa di tambahkan selama proses belajar mengajar, yaitu :

    1. Leadership skill (kepemimpinan) …..mereka yg bisa memimpin akan berpotensi lebih besar maju dalam karier. Perlu ditambah pengetahuan manajemen dasar, agar arah memimpin sesuai dengan kaidah kaidah organisasi bisnis. Keterlibatan siswa dalam organisasi kesiswaan (OSIS, Pramuka, Argapeta, dll) bisa menjadi awal yang baik untuk menguasai soft skill ini.

    2. Logic skill (Logika) …….kemampuan berpikir logis dan runut, membantu menemukan solusi berbagai masalah yang timbul dalam pekerjaan. Latihan logika trouble shooting saat praktikum menjadi sarana belajar yang effektif.

    Kiranya dua hal keahlian dasar ini, membantu lulusan SMK memiliki daya saing lebih besar di pasar industri, bukan hanya sebagai tenaga madya tetapi sudah berani melangkah menuju jajaran top manajemen.
    Salam sukses….!!

  2. Dua masukan utama dari Mas Kristianto sangat relevan dengan kondisi SMK saat ini. Untuk keterampilan nomor satu yang diusulkan Mas Kristianto, sudah terlihat dengan adanya program Hansek, program temu motivasi dengan Alumni Unggul dsb. Hanya untuk usulan nomor dua perlu ada pendekatan yang lebih intensif. Jangan sampai lulusan SMK hanya memiliki alur pikir robot dan hanya bisa menyelesaikan pekerjaan rutin dan sub rutin. Mungkin Mas Kristianto dan alumni yang lain dapat merancang program untuk menyasar kebutuhan ini?

  3. Dear Team Humas,
    Menarik jika Keterampilan Logika ini bisa disusun menjadi silabus sesuai kaidah pedagogi.
    Betapa makin berkilap alumni Stemba nantinya di dunia kerja…..
    Monggo rekan rekan alumni yang bergerak di bidang pendidikan, psikologi, trainer, dll bisa ikut sumbang saran tentang hal ini.

  4. Semestinya tidak ada persaingan antara SMK dan S1, karena masing2 ada di strata yang berbeza.
    Pada zaman sekarang perlu TRIK untuk mendapatkan kemampuan lebih yang TERAPAN.
    Jangan takut masuk sebagain TEKNISI namun tahun depan lulusan SMK sudah harus menjadi SUPERVISI, dengan memahami lingkungan dan kebutuhan perusahan maka tahun berikutnya lulusan akan menyalip yg bergelar S1 atau S2.
    Ingat HIDUP INI tetap BELAJAR, memahami sebanyak yang bisa dilakukan serta PEDULI, maka jaminan masa depan ada ditangan.
    Sekolah harus EXTRA dalam membentuk lulusan yang siap di-LEPAS dilapangan tanpa kecangunggan karena ketidak percaya diri akibat minimnya pemahaman ilmunya.
    Tidak EXTRA hasilnyapun tidak akan EXTRA, itu hukum alam.
    So untuk para GURU sampaikan materi pelajaran kepada siswa dengan dibungkus pengalaman lapangan dunia Industri/Usaha.
    Buat siswa biasakan diskusi membahas masalah yang sedang TREND, meski harus tidak pulang awal dari jam sekolah.
    Karena seberapa yang anda BISA akan anda DAPAT…….pasti.
    BRAVO
    salam
    TP

LEAVE A REPLY