SHARE

The Power of No

Tak selalu bertindak kasar, berlaku buruk terhadap sesuatu itu jelek, tidak bisa diterima. Demikian yang diajarkan Seneca dalam “Brevity of Life”. Penasaran? kenapa bisa begitu? bukankah yang ada di kepala kita orang normal, berlaku kasar, bertindak buruk harus dijauhi?

Seneca, filsuf penganut Stoa, mengutarakan pendapatnya, betapa sebagian besar manusia telah menyia-nyiakan waktu kehidupannya untuk berhubungan dengan, atau melakukan, hal-hal yang tidak memberikan manfaat bagi dirinya, orang lain, bahkan sebenarnya telah merugikan masa depannya sendiri.

Manusia sering tak merasa dirinya merugi ketika menyia-nyiakan waktunya (Al Qur’an Surat Al Asr), menyenangi hal-hal bodoh memalukan, atau merasa sedih namun tak tahu dengan pasti apa yang menyebabkan dirinya sedih, atau tiba-tiba menjadi rakus egois menganggap dunia ini hanya miliknya sendiri, tak peduli orang lain, atau menjauhkan diri dari pergaulan sosial, enggan bersilaturahmi, mengucilkan diri. atau melakukan kesalahan-kesalahan kecil berulang tanpa merasa dirinya bersalah, padahal telah membuat pihak lain merugi.

Satu hal yang orang biasanya sulit melakukan adalah berkata “tidak”, yang dimaksudkan untuk menolak ajakan. Menolak ajakan teman untuk mbolos, terasa berat karena takut akan dinilai tidak solider. Menolak perintah atasan untuk meminta komisi dari rekanan, terasa berat karena takut dikucilkan dan tidak mendapat promosi.

Padahal keberanian berkata “TIDAK” kepada ajakan sesat, perintah atasan yang menyimpang, bujukan untuk mencuri aset pihak lain, rayuan manja yang berujung penyalah- gunaan kewenangan, mimpi ingin kaya namun enggan bekerja keras cerdas, hemat dan ikhlas, merupakan strategi jitu untuk menjaga kredibilitas, reputasi, dan harkat sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Pencipta dengan kemampuan berpikir, guna membedakan mana yang baik dan buruk.

“The Power of No” demikian yang diajarkan oleh kaum Stoic, agar dimiliki oleh manusia yang menginginkan martabatnya (dignity) terjaga. Kata “Tidak” yang diikuti oleh sikap santun akan melelehkan ganasnya godaan berbuat buruk.

“Maaf, saya TIDAK bisa melakukan perintah Bapak untuk membuat laporan yang tidak sesuai fakta” ini satu contoh.

contoh lain, “Tidak, saya tidak mau menjadi pesakitan dan keluarga saya menjadi malu karena tertangkap tangan melakukan suap dan atau korupsi.”

contoh lain “tidak, saya tidak mau memberikan disposisi kepada anak buah untuk meloloskan rekanan yang memasok barang tertentu, silakan ikuti prosedur dan tawarkan produk anda secara kompetitif.”

tiga contoh di atas, ketika digunakan untuk menjawab ajakan, bujukan, perintah, besar kemungkinan akan menuai reaksi negatif dari yang memberikan perintah, mengajak atau membujuk. relasi mendadak dingin, timbul jarak yang semakin jauh. Namun bila konsisten dengan sikap ini orang lain akan segan dan menilai Anda dari perspektif positif.

Yang jelas semakin banyak kita menggunakan The Power of No, tanpa disadari, akan muncul semakin banyak kemampuan untuk berkata YES untuk hal-hal yang positif, bermakna, bermanfaat bagi sesama.

jangan ragu untuk berkata “Tidak”, bila hadapi penyimpangan, penyalah-gunan, dan hal-hal yang lebih banyak mudharatnya dari pada manfaat.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY